Perempuan-perempuan Pengais Rezeki

ilustrasi perempuan penjual getuk

“Ini sudah saya jalani dua puluh lima tahun, dan saya sangat menyukai pekerjaan saya ini,” kalimat ini meluncur riang dari Emy, di tengah lalu lalang orang.

Pagi nan cerah, membangkitkan Siti dengan sejuta angan dalam pikiran jernihnya. Dengan pasti wanita berjilbab itu mengayun langkah menuju stasiun di daerah Depok. Walau jarak stasiun begitu dekat, namun baru kali ini perempuan Jawa itu naik kereta.

Kereta datang silih berganti, seakan sebuah irama chacha yang begitu enerjik. Membuat denyut nadi kehidupan manusia di sekitar ikut bergerak enerjik. Siti terlihat bagai mengikuti irama tersebut, naik kereta dengan langkah pasti. Sampailah suara pengeras mengumumkan bahwa kereta sampai stasiun Juanda. Perempuan paru baya itupun turun dari kereta, dan berjalan kaki  menuju sebuah bangunan tua di Jalan Antara. Bangunan yang baru dua kali dia singgahi, bangunan tempat awak media Antara memberikan ilmunya kepada orang-orang yang belajar tentang jurnalistik.

Menjelang siang, nampak Siti melangkah keluar dari bangunan tua itu. Disusurinya lorong-lorong sekitar Pasar Baru yang sangat berjubel manusia. Toko arloji, toko tekstil, dan berbagai toko lain dikunjungi dengan ramahnya, bak juragan yang bawa sekarung uang. Tawar sana, tawar sini, dengan alasan kurang cocok, Siti hengkang dari satu toko ke toko lain.

Tiba-tiba langkah kaki perempuan enerjik itu terhenti. Entah karena mata yang tertarik akan seorang ibu, atau karena kaki lelah setelah berputar-putar bagai seorang penari flamenco.

Dihampirinya seorang ibu yang bersimpuh di depan sebuah toko tekstil besar itu.

“Jualan apa bu…?” tanya Siti membuka percakapan.

“Getuk neng…mau beli…?” sahut ibu penjual getuk dengan segera.

“Iya, sebungkus aja, berapa…makan disini aja bu, sambil ngobrol, boleh kan?” pinta Siti penuh harap.

Rupanya pertanyaan Siti membuat si ibu agak ketakutan. Dengan nada ketakutan si ibu bertanya: “Tapi saya tidak diapaapakan kan neng?” .

“Nggaklah bu…saya ini orang rantau, kaya ibu juga. Ibu dari Jawa juga kan?” sapa Siti seramah mungkin.

Itulah sepenggal kalimat pembuka, perkenalan dua perempuan rantau di Pasar Baru.

Mereka berdua tampak asyik melakukan dialog di tengah kebisingan. Rupanya Siti ingin tahu lebih banyak tentang Emy.

Emy, seorang ibu paroh baya yang berjuang sendirian di tengah riuh Pasar Baru, untuk menggapai segala mimpinya. Ibu yang gigih menghidupi kelima anaknya dengan keranjang asa di punggungnya. Nampak garis-garis kerasnya kehidupan lebih nyata ditorehkan di wajah wanita asli Indramayu ini.

Di usianya yang 48 tahun, wanita yang tinggal di Priok itu tetap setia menekuni pekerjaannya. Mungkin pekerjaannya kelihatan sederhana. Pekerjaan sebagai penjual getuk keliling. Namun siapa sangka, Emy setiap bulan bisa menyisihkan tabungan tidak kurang dari tiga juta rupiah setiap bulannya.

“Tiga juta ini hanya tabungan yang saya bawa pulang ke Indramayu neng. Diluar biaya untuk kontarakan dan makan saya sehari-hari,” jelas Emy dengan riang, sambil melayani pembeli lainnya.

Ya…keluarga Emy, anak-anak dan suami semua tinggal di Indramayu. Seorang diri, perempuan berkerudung ini harus menempuh perjalanan dari rumah kontrakan di Tanjung Priok ke Pasar Baru. Lakon kehidupan ini sudah dijalaninya duapuluh lima tahun lalu. Mulai karcis bis Jakarta-Indramayu seharga sepuluh rupiah sampai kini seharga empat puluh lima ribu rupiah.

Sebuah ketangguhan seorang ibu meluncur dari cerita riang bibir nan kering. Pukul tiga pagi, saat orang-orang masih berselimut mimpi…Emy sudah harus memulai aktivitasnya. Mengupas singkong, memarut kelapa, mengencerkan gula merah, memasaknya menjadi aneka panganan. Ada sawut, getuk, cendhil, klepon, utri, dan ketan hitam, tertata rapi di keranjang dagangannya.

Itulah keranjang asa, keranjang tempat merangkai mimpi Emy dan keluargannya di tengah riuh Pasar Baru.

Setelah puas mendapatkan cerita tentang Emy, akhirnya Siti melangkah pergi dengan menyelipkan beberapa lembar uang ke dagangan Emy. Langkah ringan dua perempuan yang saling berlawanan arah untuk mengais rezeki.

Siti yang mencoba mengais rezeki dengan sebuah tulisan, dan Emy si pengais rezeki melalui keranjang getuk.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s