Dunia Pendidikan Berada di Titik Nadir

ilustrasi kekerasan di dunia pendidikan

Fenomena kekerasan yang berakibat fatal, akhir-akhir ini sangat marak kita lihat di dunia pendidikan kita. Berbagai macam peristiwa yang sangat memprihatinkan, mulai dari kekerasan psikis guru yang “menodai” muridnya, kasus perundungan antar murid, dan paling fatal adalah kekerasan yang menyebabkan kematian.

Masih sangat jelas di benak kita, bagaimana peristiwa yang sangat memprihatikan terjadi di sebuah sekolah internasional. Jakarta Internasional School, yang nyata-nyata merupakan sekolah mahal, namun tidak lebih dari tempat penistaan anak-anak. Orang tua yang merasa telah membayar mahal, ternyata harus mengalami hal yang tak terduga, saat mengetahui sang anak telah menjadi korban pelecehan seksual oleh petugas kebersihan sekolah. Namun perkembangan yang ada, pelecehan di sekolah yang kebanyakan muridnya dari eks-patriat ini, juga dilakukan oleh gurunya sendiri.

Lalu…yo opo tanggapan pemerintah akan hal ini? Entah karena kehati-hatian, atau adanya kepentingan lain, saya menilai bahwa pemerintah sangat lamban menangani perkara ini. Kasus inipun akhirnya menguap di tengah gegapnya kisruh politik yang saling berseberang pandangan.

Ada lagi kasus perundungan yang terjadi di sekolah negeri ternama di Jakarta, SMAN 70. Aksi perundungan senior terhadap junior di SMAN 70, Jakarta Selatan, di luar sekolah ternyata bukanlah hal yang aneh. Bahkan, sudah menjadi tradisi yang turun temurun di sekolah itu. Hal ini menjadikan sejumlah orang tua siswa merasa khawatir ketika putra-putri mereka masuk ke jenjang SMA. Ketakutan yang sangat beralasan karena takut anak-anak mereka menjadi sasaran perpeloncoan atau korban perundungan yang dilakukan siswa senior.

Kasus Arfiand Caesar Al Irhami (16), pelajar kelas 10 SMA Negeri 3 Jakarta, yang meninggal dunia, Jumat (20/6/2014), di Rumah Sakit MMC, Kuningan, Jakarta Selatan, setelah mengikuti pelatihan ekstrakulikuler pencinta alam selama satu minggu di kawasan Tangkuban Parahu, Jawa Barat…ikut melengkapi kenadiran dunia pendidikan di Indonesia.

Belum lagi, kasus-kasus tawuran antara pelajar, tawuran antar mahasiswa antar perguruan tinggi (AMAPT)…meminjam istilah antar kota antar provinsi (AKAP).

Bahkan satu perguruan tinggi, beda fakultas pun juga tak luput menyumbang kekerasan. Padahal secara akal logika, mereka adalah orang-orang berpendidikan yang dibesarkan dalam satu almamater.

Sekolah-sekolah kedinasan, rupanya tidak mau kalah dalam persaingan menadirkan dunia pendidikan di Indonesia. Perploncoan berupa kekerasan yang berujung kematian rupanya sudah menjadi tradisi yang indah di sebuah sekolah kedinasan.

Inilah dunia pendidikan kita…dunia pendidikan yang telah berada di titik nadir. Namun para pemikir lebih melihat ke sisi lain, kurikulum, kurikulum dan kurikulum, yang membuat semakin ribet dunia pendidikan. Para pemangku kebijakan seolah melihat dengan sebelah mata kenadiran dunia pendidikan ini…yang penuh kekerasan dan rasa ego senioritas yang tinggi.

Seharusnyalah para pemangku kepentingan mulai menata, bukan hanya sekedar kurikulum yang memusingkan, namun juga adanya revolusi mental anak-anak bangsa.

(Yo opo tulisanku ini…saya doakan anak-anak bangsa punya empati…by tan)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s