Ambillah Waktu…


Ambillah waktu untuk berfikir, itu adalah sumber kekuatan

Ambillah waktu untuk berdoa, itu adalah sumber ketenangan

Ambillah waktu untuk belajar, itu adalah sumber kebijaksanaan

Ambillah waktu untuk bersahabat, itu adalah sumber kebahagiaan

Ambillah waktu untuk bekerja, itu adalah sumber keberhasilan

Ambillah waktu untuk beramal, itu kunci menuju surga

(NN)


Ketulusan Ibu Kembar di Tengah Kaum Marjinal

 

“Kami tidak membuka rekening untuk donasi atas anak-anak asuh kami, karena kami sangat takut akan korupsi” itulah sepenggal kalimat yang meluncur tulus dari Rosiati, salah satu dari ibu Kembar pendiri Sekolah Darurat Kartini.

Di suatu tempat yang mungkin terlewatkan dari gegap pembangunan. Di situ berdiri sebuah bangunan ala kadarnya, itulah Sekolah Darurat Kartini. Sekolah yang jauh dari layak di tengah hiruk pikuknya pembangunan kota Jakarta. Berada di bawah jembatan tol, di antara tumpukan sampah dan gubuk-gubuk kecil, tepatnya di Jalan Lodan Raya, Kelurahan Ancol, Kecamatan Pademangan, Jakarta Utara.  Disitulah sekolah ini dibangun atas sumbangan dari PT Sriwijaya Air melalui Program Polisi Peduli Pendidikan.

Ibu kembar, Sri Rosiati dan Sri Irianingsih, sebagai penggagas sekolah darurat, mulai mendirikan sekolah darurat sejak tahun 1990. Setelah 22 tahun, dari sebuah ketulusannya, kini telah berkembang menjadi 101 lokasi pembelajaran untuk anak-anak kelas marjinal. Bahkan mulai tahun 2013, ibu kembar ini mulai melakukan pembinaan anak-anak TKI/W yang ada di Hongkong. Sungguh biaya yang tidak sedikit untuk melakukan hal ini. Namun, ibu kembar tetap tidak mau membuka rekening donasi, karena mereka sangat takut akan korupsi.

Sebuah ketulusan pula yang akhirnya bisa menelurkan putra bangsa dengan pendidikan S2 bahkan S3, yang akhirnya ikut mengajar di berbagai lokasi sekolah darurat Kartini. Namun, saat ini ibu kembar sedikit terganjal dengan aturan pendidikan yang ada saat ini. Di mana anak-anak didiknya yang ikut ujian nasional tahun 2013 diharuskan mempunyai kartu keluarga. Sungguh sulit bagi anak-anak ini, karena mereka tidak pernah meminta dilahirkan sebagai anak pemulung ataupun gelandangan seperti itu. Sedih rasanya melihat kenyataan yang mungkin terlewat ini, hingga tanpa terasa ibu-ibu dharma wanita tercenung dengan mata berkaca-kaca.

Upaya hukum untuk menghantar anak didiknya pun dilakukan oleh ibu kembar. Dengan didampingi LBH, mereka mengajukan tuntutan penyetaraan ke Mahkamah Konstitusi. Karena menurutnya, mencerdaskan anak bangsa telah diamanatkan dalam UUD 1945 pasal 34.

Perempuan-perempuan Pengais Rezeki

ilustrasi perempuan penjual getuk

“Ini sudah saya jalani dua puluh lima tahun, dan saya sangat menyukai pekerjaan saya ini,” kalimat ini meluncur riang dari Emy, di tengah lalu lalang orang.

Pagi nan cerah, membangkitkan Siti dengan sejuta angan dalam pikiran jernihnya. Dengan pasti wanita berjilbab itu mengayun langkah menuju stasiun di daerah Depok. Walau jarak stasiun begitu dekat, namun baru kali ini perempuan Jawa itu naik kereta.

Kereta datang silih berganti, seakan sebuah irama chacha yang begitu enerjik. Membuat denyut nadi kehidupan manusia di sekitar ikut bergerak enerjik. Siti terlihat bagai mengikuti irama tersebut, naik kereta dengan langkah pasti. Sampailah suara pengeras mengumumkan bahwa kereta sampai stasiun Juanda. Perempuan paru baya itupun turun dari kereta, dan berjalan kaki  menuju sebuah bangunan tua di Jalan Antara. Bangunan yang baru dua kali dia singgahi, bangunan tempat awak media Antara memberikan ilmunya kepada orang-orang yang belajar tentang jurnalistik.

Menjelang siang, nampak Siti melangkah keluar dari bangunan tua itu. Disusurinya lorong-lorong sekitar Pasar Baru yang sangat berjubel manusia. Toko arloji, toko tekstil, dan berbagai toko lain dikunjungi dengan ramahnya, bak juragan yang bawa sekarung uang. Tawar sana, tawar sini, dengan alasan kurang cocok, Siti hengkang dari satu toko ke toko lain.

Tiba-tiba langkah kaki perempuan enerjik itu terhenti. Entah karena mata yang tertarik akan seorang ibu, atau karena kaki lelah setelah berputar-putar bagai seorang penari flamenco.

Dihampirinya seorang ibu yang bersimpuh di depan sebuah toko tekstil besar itu.

“Jualan apa bu…?” tanya Siti membuka percakapan.

“Getuk neng…mau beli…?” sahut ibu penjual getuk dengan segera.

“Iya, sebungkus aja, berapa…makan disini aja bu, sambil ngobrol, boleh kan?” pinta Siti penuh harap.

Rupanya pertanyaan Siti membuat si ibu agak ketakutan. Dengan nada ketakutan si ibu bertanya: “Tapi saya tidak diapaapakan kan neng?” .

“Nggaklah bu…saya ini orang rantau, kaya ibu juga. Ibu dari Jawa juga kan?” sapa Siti seramah mungkin.

Itulah sepenggal kalimat pembuka, perkenalan dua perempuan rantau di Pasar Baru.

Mereka berdua tampak asyik melakukan dialog di tengah kebisingan. Rupanya Siti ingin tahu lebih banyak tentang Emy.

Emy, seorang ibu paroh baya yang berjuang sendirian di tengah riuh Pasar Baru, untuk menggapai segala mimpinya. Ibu yang gigih menghidupi kelima anaknya dengan keranjang asa di punggungnya. Nampak garis-garis kerasnya kehidupan lebih nyata ditorehkan di wajah wanita asli Indramayu ini.

Di usianya yang 48 tahun, wanita yang tinggal di Priok itu tetap setia menekuni pekerjaannya. Mungkin pekerjaannya kelihatan sederhana. Pekerjaan sebagai penjual getuk keliling. Namun siapa sangka, Emy setiap bulan bisa menyisihkan tabungan tidak kurang dari tiga juta rupiah setiap bulannya.

“Tiga juta ini hanya tabungan yang saya bawa pulang ke Indramayu neng. Diluar biaya untuk kontarakan dan makan saya sehari-hari,” jelas Emy dengan riang, sambil melayani pembeli lainnya.

Ya…keluarga Emy, anak-anak dan suami semua tinggal di Indramayu. Seorang diri, perempuan berkerudung ini harus menempuh perjalanan dari rumah kontrakan di Tanjung Priok ke Pasar Baru. Lakon kehidupan ini sudah dijalaninya duapuluh lima tahun lalu. Mulai karcis bis Jakarta-Indramayu seharga sepuluh rupiah sampai kini seharga empat puluh lima ribu rupiah.

Sebuah ketangguhan seorang ibu meluncur dari cerita riang bibir nan kering. Pukul tiga pagi, saat orang-orang masih berselimut mimpi…Emy sudah harus memulai aktivitasnya. Mengupas singkong, memarut kelapa, mengencerkan gula merah, memasaknya menjadi aneka panganan. Ada sawut, getuk, cendhil, klepon, utri, dan ketan hitam, tertata rapi di keranjang dagangannya.

Itulah keranjang asa, keranjang tempat merangkai mimpi Emy dan keluargannya di tengah riuh Pasar Baru.

Setelah puas mendapatkan cerita tentang Emy, akhirnya Siti melangkah pergi dengan menyelipkan beberapa lembar uang ke dagangan Emy. Langkah ringan dua perempuan yang saling berlawanan arah untuk mengais rezeki.

Siti yang mencoba mengais rezeki dengan sebuah tulisan, dan Emy si pengais rezeki melalui keranjang getuk.