IBU

Ibu…yang penuh rasa asah, asih, dan asuh untuk buah hatinya

IBU merupakan kata tersejuk 
yang dilantunkan oleh bibir-bibir manusia,
Dan “Ibuku” merupakan sebutan terindah. 
Kata yang semerbak cinta dan impian, manis dan syahdu
 yang memancarkan dari kedalam jiwa.
IBU adalah segalanya. 
IBU adalah penegas kita di kala lara, 
impian kita dalam rengsa,
rujukan kita di kala nista. 
Ibu adalah mata air cinta, kemuliaan, kebahagiaan dan toleransi. 
Siapapun yang kehilangan ibunya,
ia akan kehilangan sehelai jiwa suci 
yang senantiasa merestui dan memberkatinya.
Alam semesta selalu berbincang dalam bahasa ibu. 
Matahari sebagai ibu bumi… yang menyusui melalui panasnya.
Matahari takkan pernah meninggalkan bumi sampai malam merebahkanya 
dalam lentera ombak, syahdu tembang beburungan dan sesungaian. 
Bumi adalah ibu pepohonan dan bebungaan. 
Bumi menumbuhkan, menjaga, dan membesarkanya 
pepohonan bebungaan adalah ibu yang tulus memelihara bebungaan dan bebijian.
Ibu adalah jiwa keabadian bagi semua wujud,
Penuh cinta dan kedamaian.

by Kahlil Gibran

(Selamat hari IBU…maafkan aku bila belum bisa membahagiakan Ibu)

On Children

On Children by Kahlil Gibran

Anakmu bukanlah milikmu,

mereka adalah putra putri sang Hidup,

yang rindu akan dirinya sendiri.

Mereka lahir lewat engkau, tetapi bukan dari engkau,

mereka ada padamu, tetapi bukanlah milikmu.

Berikanlah mereka kasih sayangmu, namun jangan sodorkan pemikiranmu,

sebab pada mereka ada alam pikiran tersendiri.

Patut kau berikan rumah bagi raganya, namun tidak bagi jiwanya,

sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan, yang tiada dapat kau kunjungi,

sekalipun dalam mimpimu.

Engkau boleh berusaha menyerupai mereka, namun jangan membuat mereka menyerupaimu,

sebab kehidupan tidak pernah berjalan mundur, ataupun tenggelam ke masa lampau.

Engkaulah busur asal anakmu,

anak panah hidup, melesat pergi.

Sang Pemanah membidik sasaran keabadian,

Dia merentangkanmu dengan kuasaNya,

hingga anak panah itu melesat jauh dan cepat.

Bersukacitalah dalam rentangan tangan Sang Pemanah,

sebab Dia mengasihi anak-anak panah yang melesat laksana kilat,

sebagaimana dikasihiNya pula busur yang mantap.

Bekerjalah Dengan Cinta

Khalil Gibran

Kerja adalah wujud nyata dari cinta

Bila anda tidak dapat bekerja dengan cinta,

lebih baik tinggalkan pekerjaan anda…lalu duduklah di gerbang rumah ibadah,

dan terimalah derma dari orang-orang yang bekerja dengan cinta

dan penuh suka cita


Sebuah Pengalaman Pribadi: “Menulis”….Sebuah Evolusi Diri

Berhitung tentang nasib, rezeki, ataupun karir…tidak ada satupun rumus yang secara pasti bisa menjelaskan hal ini.  Perhitungan para ahlipun juga tidak bisa dijadikan acuan. Karena ada campur tangan yang maha dahsyat tak kasat mata…doa dan hak prerogatif Tuhan.

Hal yang aku alami…dimana aku yang dilahirkan dari ilmu audit. Otak selalu dijelali dengan angka, rumus, deret ukur, ataupun hitung linier, kunikmati karena memang ku suka.

Pekerjaanku pun sekitar pengetahuan awalku, mengawasi, memeriksa, dan membuat laporan. Sebuah laporan yang ditulis harus disertai berbagai macam data dalam rangkaian kertas kerja. Bentuk tulisanpun telah ada template baku yang harus diikuti, yang memudahkan para auditor dalam bekerja.

Tulisan yang menceritakan suatu kondisi nyata, haruslah dibandingkan dengan kriteria ataupun norma-norma yang berlaku. Saat terjadi perbedaan dari pembandingan, maka haruslah diuraikan apa saja penyebabnya. Sehingga kondisi tersebut mengakibatkan hal-hal yang bisa merugikan negara, ataupun akibat lainnya. Di akhir tulisan, sebuah rekomendasi merupakan penyelesaian yang nyata, harus bisa ditindaklanjuti.

Kini tulisan itu telah berevolusi, tidak lagi harus memperhatikan template baku, kaku dan saklek. Tulisan itu, kini lebih memperhatikan unsur 5W 1H untuk sebuah berita. Bahkan unsur 5W 1H bisa diabaikan saat tulisan bergulir ke sebuah feature, tentu saja dengan menambah unsur narasumber. Bahkan semua itu bisa dihilangkan, saat tulisan mengalir ke sebuah opini. Disinilah sebuah berita menjadi panjang dalam alunan perdebatan, yang kadang berbelok arah dari inti sebuah berita.

Sebuah evolusi diri harus dijalani, karena itu adalah kodrat Illahi yang telah menetapkan hak prorogratif-Nya. Pergeseran karya yang bisa kunikmati, setelah bersama-sama dengan teman-teman media “Antara” kureguk apa itu yang namanya jurnalis…yang lain dengan jurnal dalam akuntansi.

Kenikmatan saat berevolusi ini serasa tambah asyik, saat terakhir diumumkan aku menjadi peserta terbaik di angkatan yang sama. Syukur kepada Allah, terimakasih kepada institusi, maturnuwun kepada teman-teman “Antara”…semoga evolusi ini bukan sebuah musibah…namun sebaliknya adalah sebuah berkah. Semoga…

by: tan

Dunia Pendidikan Berada di Titik Nadir

ilustrasi kekerasan di dunia pendidikan

Fenomena kekerasan yang berakibat fatal, akhir-akhir ini sangat marak kita lihat di dunia pendidikan kita. Berbagai macam peristiwa yang sangat memprihatinkan, mulai dari kekerasan psikis guru yang “menodai” muridnya, kasus perundungan antar murid, dan paling fatal adalah kekerasan yang menyebabkan kematian.

Masih sangat jelas di benak kita, bagaimana peristiwa yang sangat memprihatikan terjadi di sebuah sekolah internasional. Jakarta Internasional School, yang nyata-nyata merupakan sekolah mahal, namun tidak lebih dari tempat penistaan anak-anak. Orang tua yang merasa telah membayar mahal, ternyata harus mengalami hal yang tak terduga, saat mengetahui sang anak telah menjadi korban pelecehan seksual oleh petugas kebersihan sekolah. Namun perkembangan yang ada, pelecehan di sekolah yang kebanyakan muridnya dari eks-patriat ini, juga dilakukan oleh gurunya sendiri.

Lalu…yo opo tanggapan pemerintah akan hal ini? Entah karena kehati-hatian, atau adanya kepentingan lain, saya menilai bahwa pemerintah sangat lamban menangani perkara ini. Kasus inipun akhirnya menguap di tengah gegapnya kisruh politik yang saling berseberang pandangan.

Ada lagi kasus perundungan yang terjadi di sekolah negeri ternama di Jakarta, SMAN 70. Aksi perundungan senior terhadap junior di SMAN 70, Jakarta Selatan, di luar sekolah ternyata bukanlah hal yang aneh. Bahkan, sudah menjadi tradisi yang turun temurun di sekolah itu. Hal ini menjadikan sejumlah orang tua siswa merasa khawatir ketika putra-putri mereka masuk ke jenjang SMA. Ketakutan yang sangat beralasan karena takut anak-anak mereka menjadi sasaran perpeloncoan atau korban perundungan yang dilakukan siswa senior.

Kasus Arfiand Caesar Al Irhami (16), pelajar kelas 10 SMA Negeri 3 Jakarta, yang meninggal dunia, Jumat (20/6/2014), di Rumah Sakit MMC, Kuningan, Jakarta Selatan, setelah mengikuti pelatihan ekstrakulikuler pencinta alam selama satu minggu di kawasan Tangkuban Parahu, Jawa Barat…ikut melengkapi kenadiran dunia pendidikan di Indonesia.

Belum lagi, kasus-kasus tawuran antara pelajar, tawuran antar mahasiswa antar perguruan tinggi (AMAPT)…meminjam istilah antar kota antar provinsi (AKAP).

Bahkan satu perguruan tinggi, beda fakultas pun juga tak luput menyumbang kekerasan. Padahal secara akal logika, mereka adalah orang-orang berpendidikan yang dibesarkan dalam satu almamater.

Sekolah-sekolah kedinasan, rupanya tidak mau kalah dalam persaingan menadirkan dunia pendidikan di Indonesia. Perploncoan berupa kekerasan yang berujung kematian rupanya sudah menjadi tradisi yang indah di sebuah sekolah kedinasan.

Inilah dunia pendidikan kita…dunia pendidikan yang telah berada di titik nadir. Namun para pemikir lebih melihat ke sisi lain, kurikulum, kurikulum dan kurikulum, yang membuat semakin ribet dunia pendidikan. Para pemangku kebijakan seolah melihat dengan sebelah mata kenadiran dunia pendidikan ini…yang penuh kekerasan dan rasa ego senioritas yang tinggi.

Seharusnyalah para pemangku kepentingan mulai menata, bukan hanya sekedar kurikulum yang memusingkan, namun juga adanya revolusi mental anak-anak bangsa.

(Yo opo tulisanku ini…saya doakan anak-anak bangsa punya empati…by tan)

Ambillah Waktu…


Ambillah waktu untuk berfikir, itu adalah sumber kekuatan

Ambillah waktu untuk berdoa, itu adalah sumber ketenangan

Ambillah waktu untuk belajar, itu adalah sumber kebijaksanaan

Ambillah waktu untuk bersahabat, itu adalah sumber kebahagiaan

Ambillah waktu untuk bekerja, itu adalah sumber keberhasilan

Ambillah waktu untuk beramal, itu kunci menuju surga

(NN)


Ketulusan Ibu Kembar di Tengah Kaum Marjinal

 

“Kami tidak membuka rekening untuk donasi atas anak-anak asuh kami, karena kami sangat takut akan korupsi” itulah sepenggal kalimat yang meluncur tulus dari Rosiati, salah satu dari ibu Kembar pendiri Sekolah Darurat Kartini.

Di suatu tempat yang mungkin terlewatkan dari gegap pembangunan. Di situ berdiri sebuah bangunan ala kadarnya, itulah Sekolah Darurat Kartini. Sekolah yang jauh dari layak di tengah hiruk pikuknya pembangunan kota Jakarta. Berada di bawah jembatan tol, di antara tumpukan sampah dan gubuk-gubuk kecil, tepatnya di Jalan Lodan Raya, Kelurahan Ancol, Kecamatan Pademangan, Jakarta Utara.  Disitulah sekolah ini dibangun atas sumbangan dari PT Sriwijaya Air melalui Program Polisi Peduli Pendidikan.

Ibu kembar, Sri Rosiati dan Sri Irianingsih, sebagai penggagas sekolah darurat, mulai mendirikan sekolah darurat sejak tahun 1990. Setelah 22 tahun, dari sebuah ketulusannya, kini telah berkembang menjadi 101 lokasi pembelajaran untuk anak-anak kelas marjinal. Bahkan mulai tahun 2013, ibu kembar ini mulai melakukan pembinaan anak-anak TKI/W yang ada di Hongkong. Sungguh biaya yang tidak sedikit untuk melakukan hal ini. Namun, ibu kembar tetap tidak mau membuka rekening donasi, karena mereka sangat takut akan korupsi.

Sebuah ketulusan pula yang akhirnya bisa menelurkan putra bangsa dengan pendidikan S2 bahkan S3, yang akhirnya ikut mengajar di berbagai lokasi sekolah darurat Kartini. Namun, saat ini ibu kembar sedikit terganjal dengan aturan pendidikan yang ada saat ini. Di mana anak-anak didiknya yang ikut ujian nasional tahun 2013 diharuskan mempunyai kartu keluarga. Sungguh sulit bagi anak-anak ini, karena mereka tidak pernah meminta dilahirkan sebagai anak pemulung ataupun gelandangan seperti itu. Sedih rasanya melihat kenyataan yang mungkin terlewat ini, hingga tanpa terasa ibu-ibu dharma wanita tercenung dengan mata berkaca-kaca.

Upaya hukum untuk menghantar anak didiknya pun dilakukan oleh ibu kembar. Dengan didampingi LBH, mereka mengajukan tuntutan penyetaraan ke Mahkamah Konstitusi. Karena menurutnya, mencerdaskan anak bangsa telah diamanatkan dalam UUD 1945 pasal 34.

Perempuan-perempuan Pengais Rezeki

ilustrasi perempuan penjual getuk

“Ini sudah saya jalani dua puluh lima tahun, dan saya sangat menyukai pekerjaan saya ini,” kalimat ini meluncur riang dari Emy, di tengah lalu lalang orang.

Pagi nan cerah, membangkitkan Siti dengan sejuta angan dalam pikiran jernihnya. Dengan pasti wanita berjilbab itu mengayun langkah menuju stasiun di daerah Depok. Walau jarak stasiun begitu dekat, namun baru kali ini perempuan Jawa itu naik kereta.

Kereta datang silih berganti, seakan sebuah irama chacha yang begitu enerjik. Membuat denyut nadi kehidupan manusia di sekitar ikut bergerak enerjik. Siti terlihat bagai mengikuti irama tersebut, naik kereta dengan langkah pasti. Sampailah suara pengeras mengumumkan bahwa kereta sampai stasiun Juanda. Perempuan paru baya itupun turun dari kereta, dan berjalan kaki  menuju sebuah bangunan tua di Jalan Antara. Bangunan yang baru dua kali dia singgahi, bangunan tempat awak media Antara memberikan ilmunya kepada orang-orang yang belajar tentang jurnalistik.

Menjelang siang, nampak Siti melangkah keluar dari bangunan tua itu. Disusurinya lorong-lorong sekitar Pasar Baru yang sangat berjubel manusia. Toko arloji, toko tekstil, dan berbagai toko lain dikunjungi dengan ramahnya, bak juragan yang bawa sekarung uang. Tawar sana, tawar sini, dengan alasan kurang cocok, Siti hengkang dari satu toko ke toko lain.

Tiba-tiba langkah kaki perempuan enerjik itu terhenti. Entah karena mata yang tertarik akan seorang ibu, atau karena kaki lelah setelah berputar-putar bagai seorang penari flamenco.

Dihampirinya seorang ibu yang bersimpuh di depan sebuah toko tekstil besar itu.

“Jualan apa bu…?” tanya Siti membuka percakapan.

“Getuk neng…mau beli…?” sahut ibu penjual getuk dengan segera.

“Iya, sebungkus aja, berapa…makan disini aja bu, sambil ngobrol, boleh kan?” pinta Siti penuh harap.

Rupanya pertanyaan Siti membuat si ibu agak ketakutan. Dengan nada ketakutan si ibu bertanya: “Tapi saya tidak diapaapakan kan neng?” .

“Nggaklah bu…saya ini orang rantau, kaya ibu juga. Ibu dari Jawa juga kan?” sapa Siti seramah mungkin.

Itulah sepenggal kalimat pembuka, perkenalan dua perempuan rantau di Pasar Baru.

Mereka berdua tampak asyik melakukan dialog di tengah kebisingan. Rupanya Siti ingin tahu lebih banyak tentang Emy.

Emy, seorang ibu paroh baya yang berjuang sendirian di tengah riuh Pasar Baru, untuk menggapai segala mimpinya. Ibu yang gigih menghidupi kelima anaknya dengan keranjang asa di punggungnya. Nampak garis-garis kerasnya kehidupan lebih nyata ditorehkan di wajah wanita asli Indramayu ini.

Di usianya yang 48 tahun, wanita yang tinggal di Priok itu tetap setia menekuni pekerjaannya. Mungkin pekerjaannya kelihatan sederhana. Pekerjaan sebagai penjual getuk keliling. Namun siapa sangka, Emy setiap bulan bisa menyisihkan tabungan tidak kurang dari tiga juta rupiah setiap bulannya.

“Tiga juta ini hanya tabungan yang saya bawa pulang ke Indramayu neng. Diluar biaya untuk kontarakan dan makan saya sehari-hari,” jelas Emy dengan riang, sambil melayani pembeli lainnya.

Ya…keluarga Emy, anak-anak dan suami semua tinggal di Indramayu. Seorang diri, perempuan berkerudung ini harus menempuh perjalanan dari rumah kontrakan di Tanjung Priok ke Pasar Baru. Lakon kehidupan ini sudah dijalaninya duapuluh lima tahun lalu. Mulai karcis bis Jakarta-Indramayu seharga sepuluh rupiah sampai kini seharga empat puluh lima ribu rupiah.

Sebuah ketangguhan seorang ibu meluncur dari cerita riang bibir nan kering. Pukul tiga pagi, saat orang-orang masih berselimut mimpi…Emy sudah harus memulai aktivitasnya. Mengupas singkong, memarut kelapa, mengencerkan gula merah, memasaknya menjadi aneka panganan. Ada sawut, getuk, cendhil, klepon, utri, dan ketan hitam, tertata rapi di keranjang dagangannya.

Itulah keranjang asa, keranjang tempat merangkai mimpi Emy dan keluargannya di tengah riuh Pasar Baru.

Setelah puas mendapatkan cerita tentang Emy, akhirnya Siti melangkah pergi dengan menyelipkan beberapa lembar uang ke dagangan Emy. Langkah ringan dua perempuan yang saling berlawanan arah untuk mengais rezeki.

Siti yang mencoba mengais rezeki dengan sebuah tulisan, dan Emy si pengais rezeki melalui keranjang getuk.